Jakarta, 14 September 2026 — Pernahkah kamu merasa sudah mengatur porsi makan, mengurangi camilan manis, hingga rajin berolahraga, tapi timbangan tetap diam di tempat? Situasi seperti ini seringkali bikin frustrasi. Tidak sedikit orang yang akhirnya merasa dirinya kurang disiplin atau menganggap dirinya gagal berdiet. Padahal, urusan berat badan yang sulit turun itu tidak melulu sesederhana perkara makan terlalu banyak atau kurang bergerak, lho.
Faktanya, secara medis, Obesitas adalah penyakit kronis kompleks yang melibatkan genetik, neurobiologi, perilaku makan serta berbagai faktor biologis dan lingkungan1, bukan sekadar masalah kemauan. Daripada terus menebak-nebak, yuk kita simak interview dengan dr. Erwin Christianto, Sp.GK, M.Gizi, Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) mengenai faktanya!
Bukan Sekadar Makan Banyak, Obesitas Itu Penyakit Kronis yang Kompleks
Banyak yang bertanya-tanya, sebenarnya apa itu obesitas dan kenapa obesitas disebut penyakit? dr. Erwin menjelaskan bahwa pandangan lawas mengenai kegemukan sudah harus ditinggalkan.
“Kalau dulu kita hanya mengenal obesitas karena makan terlalu banyak, sekarang kita tahu penyebabnya jauh lebih kompleks,” ungkap dr. Erwin. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, semakin jelas terbukti bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang bersifat multifaktorial. Artinya, ada banyak faktor yang saling berinteraksi, mulai dari genetik, hormonal, gangguan fungsi otak dalam mengatur rasa lapar dan kenyang, faktor psikologis seperti stres dan kurang tidur, hingga efek samping penggunaan obat-obatan tertentu.
Karena penyebabnya sangat beragam, perjalanan setiap orang yang hidup dengan obesitas ini pasti berbeda-beda.
Misteri Susah Kurus Meski Sudah Diet
Lalu, kenapa berat badan susah turun padahal sudah diet? Menanggapi keresahan ini, dr. Erwin meluruskan bahwa diet sebetulnya berarti mengatur pola makan, bukan berarti tidak makan sama sekali.
“Kalau seseorang sudah mengurangi makan tetapi berat badannya tidak turun, kita perlu mencari penyebabnya,” tegasnya. Masalahnya bisa tersembunyi pada kebiasaan ngemil yang tidak disadari, atau tubuh orang tersebut memang tidak mampu mengolah zat gizi dengan baik, sehingga kalori yang masuk justru lebih banyak disimpan sebagai tumpukan lemak. Jadi, stop menghakimi atau menyimpulkan seseorang kurang disiplin hanya karena berat badannya sulit turun. dr. Erwin juga mengingatkan bahaya mengikuti tren diet di media sosial tanpa dasar yang jelas. Sesuatu yang berhasil memangkas berat badan si A, belum tentu akan berhasil di tubuh si B karena metabolisme mereka berbeda.
Kapan Kita Harus Waspada?
Di Indonesia sendiri, isu berat badan bukanlah masalah sepele. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, hampir 1 dari 4 orang dewasa mengalami obesitas.2 Kondisi ini menjadi perhatian karena obesitas berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit kronis, termasuk diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan beberapa jenis kanker.
Sebagai langkah deteksi mandiri yang paling sederhana, kamu bisa mulai memantau Indeks Massa Tubuh (BMI). Pengecekan BMI dapat dilakukan di https://www.obesityisadisease-id.com/BMI Calculator. Namun perlu diingat, BMI ini hanyalah indikator awal untuk skrining, bukan penentu mutlak kondisi kesehatanmu.
Lantas, kapan harus ke dokter karena obesitas? “Kalau dalam dua sampai tiga bulan berat badan atau lingkar perut terus meningkat, itu sudah menjadi tanda bahaya awal,” pesan dr. Erwin. Jangan tunggu sampai muncul penyakit berat. Jika kamu mulai merasa mudah lelah, lutut sering nyeri saat naik tangga, bangun tidur badan tidak segar, dan aktivitas harian mulai terganggu, itulah saat yang tepat untuk mencari bantuan profesional.
Penanganan Tidak Bisa Dipukul Rata
Karena kondisi setiap orang unik, penanganan obesitas tidak mengenal prinsip one size fits all. Menurut penjelasan dr. Erwin, penanganan obesitas akan dilakukan lewat evaluasi menyeluruh secara personal.
Dokter Spesialis Gizi Klinik tidak hanya bertugas menyusun menu makan, melainkan mengevaluasi penyebab pasti dari penumpukan lemak, menilai kondisi metabolik, komposisi tubuh, hingga mengecek ada atau tidaknya penyakit penyerta. Dari sanalah, dokter akan menyusun terapi gizi medis yang paling sesuai dengan tubuhmu.
Pondasi utamanya memang tetap pada perubahan gaya hidup, seperti pola makan, aktivitas fisik, dan pengelolaan stres. Namun pada kondisi tertentu, misalnya metabolisme sudah terlanjur terganggu, seseorang mungkin akan membutuhkan obat-obatan medis, salah satunya melalui injeksi, sebagai terapi pendamping untuk membantu mengembalikan fungsi metabolisme tubuhnya ke jalur yang benar.
Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional
Jika kamu sudah berusaha keras namun hasilnya belum sesuai harapan, jangan patah semangat. Melakukan konsultasi obesitas dengan dokter adalah langkah paling krusial untuk menemukan penanganan yang akurat.








