
Beser dan mengompol pada kelompok lansia dan laki-laki yang seringkali dianggap normal, pada hakikatnya merupakan gangguan kesehatan yang dapat menurunkan kualitas hidup, menimbulkan gangguan seksual bahkan depresi. Hasil penelitian Perkumpulan Kontinensia Indonesia (PERKINA) pada tahun 2020 yang melibatkan 585 responden yang terdiri dari 267 pria dan 318 perempuan, menunjukkan bahwa 11,6% atau sekitar 68 dari responden mengalami gangguan berkemih. Artinya, sekitar 1 dari 10 orang memiliki gangguan tersebut. Hal ini pun merupakan hal yang cukup berpengaruh, baik dari segi kualitas hidup seseorang, hingga beban pengobatan di masyarakat.
Beser dan mengompol memiliki perbedaan yaitu beser atau atau Overactive Bladder (OAB) merupakan sebuah gangguan fungsi berkemih yang mengakibatkan rasa ingin segera berkemih, dan juga sebagai salah satu jenis inkontinensia. Sementara, ngompol atau enuresis atau inkontinensia adalah seseorang yang tidak bisa menahan keluarnya air kencing tanpa dikehendaki.
Prof. Dr. dr. Siti Setiati, Sp.PD, KGer, M.Epid, Divisi Geriati Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM mengatakan “Terdapat 4 jenis inkontinensia yang sering kita jumpai,” lanjutnya, “Pertama, Inkontinensia Tekanan, yang merupakan jenis inkontinensia yang banyak dijumpai dengan prevalensi di Indonesia secara umum adalah 4% dengan lansia sebesar 4.8%. Yang kedua, Inkontinensia Dorongan/beser/urgensi/OAB, tipe ini paling banyak dijumpai pada populasi lansia (9.4%) dibandingkan umum (4.1%) dengan presentase laki-laki lansia tertinggi (11.2%). Ketiga, yaitu Inkontinensia Campuran, dengan pevalensi di Indonesia pada populasi umum sebesar 1.5% dengan lansia sebesar 4.0%. Terakhir, Inkontinensia Luapan, tipe ini ditemui pada pria karena berkaitan dengan obstruksi saluran berkemih yang disebabkan oleh pembesaran prostat, ataupun batu. Prevalensi di Indonexsia secara umum sebesar 0.4% dengan lansia juga sebesar 0.4%.”
Beberapa penyebab inkontinensia dapat diatasi tanpa harus mengonsumsi obat-obatan. Tata laksana yang dilakukan baik secara non-farmakologi dan farmakologis dengan pembatasan asupan minum, tidak minum kurang lebih dua jam sebelum tidur, mengurangi konsumsi kafein, alkohol, minuman bersoda, manis, berhenti merokok, penurunan berat badan, Bladder retaining, dan latihan otot dasar panggul. Sementara itu, tatalaksana Farmakologi yang dapat dilakukan adalah dengan Anti-muskarinik/Anti-kolinergik, Penghambat reseptor -1, Agonis dan pembedahan apabila perlu dilakukan.
Gangguan berkemih atau dikenal dengan Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS) merupakan kumpulan gejala yang berkaitan dengan proses berkemih akibat masalah pada saluran kemih bawah yang di dalamnya termasuk kandung kemih, prostat, sfingter uretra, dan uretra. Gangguan ini sangat mempengaruhi kualitas hidup seseorang.
Dalam paparannya, ia mengemukakan, “Tata laksana konservatif beser dan ngompol pada pria dan lansia secara umum yang dapat dilakukan oleh pasien dengan gangguan berkemih sebelum diagnosis ditegakkan adalah: menggunakan pampers, menjaga berat badan sesuai rekomendasi berdasarkan indeks massa tubuh yang ideal, menghindari atau mengurangi konsumsi kafein dan alkohol, menjaga pola konsumsi cairan yang secukupnya, tindakan pijat uretra, dilakukan untuk mengurangi rasa tidak tuntas pasca buang air kecil.”
“Terapi farmakologis untuk gangguan pria diberikan terutama untuk gangguan berkemih dengan gejala yang cukup mengganggu. Untuk gangguan berkemih dengan gejala pengosongan (voiding) yang diakibatkan oleh obstruksi yang umumnya adalah BPH, pemberian obat-obatan yang dapat diberikan antara lain α1-blocker, 5- α reductase inhibitor (5-ARIs), dan phosphodiesterase 5-inhibitors (PDE5-I). Untuk gangguan berkemih dengan gejala penyimpanan (storage) akibat masalah non-obstruksi yakni OAB dapat diberikan anti-muskarinik dan beta-3 agonis5 6,” tutupnya.








