
PT Unilever Indonesia, Tbk. kembali menggelar Indonesia Hygiene Forum (IHF) yang telah memasuki kali pelaksanaan ke-delapan. Forum ini bertujuan meningkatkan kesadaran seluruh lapisan masyarakat akan pentingnya penerapan protokol kesehatan dan higienitas yang tepat guna melindungi diri dan lingkungan dari bahaya penyebaran COVID-19, dalam hal ini di area sekolah yang mulai memasuki masa Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. Di tengah forum, telah hadir sederetan pakar yang mewakilkan para pemangku kepentingan di bidang kesehatan dan pendidikan – mulai dari pemerintah, organisasi, akademisi hingga pelaku industri.
Reski Damayanti selaku Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Unilever Indonesia, Tbk. menyampaikan, “Sejak awal pandemi, Unilever Indonesia berkomitmen untuk turut mengambil peran, membantu Indonesia menangani pandemi melalui berbagai jenis dukungan. Hal ini sejalan dengan fokus Perusahaan selama pandemi yaitu: 1) Melindungi kesehatan dan kesejahteraan karyawan, 2) Memastikan pemenuhan produk yang dibutuhkan konsumen, dan 3) Membantu masyarakat luas dalam berbagai upaya mengatasi pandemi COVID-19. Sebagai perusahaan yang memproduksi produk-produk yang dekat keseharian masyarakat, kami memiliki peran untuk menyediakan produk kebersihan dan higienitas yang berkualitas serta mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat serta penerapan protokol kesehatan. Kali ini, sebagai bentuk dukungan, kami menyelenggarakan IHF untuk menyebarluaskan edukasi mengenai pentingnya penerapan protokol kesehatan sebagai kunci keamanan pelaksanaan PTM terbatas.”
Terkait kualitas produk, drg. Arianti Anaya, MKM, (Plt) Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan, “Untuk menjamin keamanan, mutu, dan manfaat alat kesehatan serta Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) yang beredar di sekolah-sekolah selama PTM terbatas, Kementerian Kesehatan RI terus melakukan pengawasan yang ketat, pra dan pasca peredaran. Kerja sama sinergis antara pemerintah, industri, penyalur, pemberi layanan kesehatan dan masyarakat harus dilakukan untuk melaksanakan pengawasan, pembinaan, hingga pengendalian sehingga semua sekolah dapat menjadi tempat belajar yang aman, nyaman dan terlindungi.”
Dalam mendukung PTM terbatas melalui produk yang aman dan berkualitas, Unilever Indonesia telah melakukan serangkaian proses yang berkesinambungan. Esperansa Hidayat, Head of SEAA R&D Skin Cleansing Unilever Indonesia menjelaskan, “Kami terus berupaya mempersembahkan inovasi yang baik dan bertanggung jawab. Upaya ini diawali dari konsep yang diujikan ke masyarakat untuk melihat apakah produk tersebut dapat diterima dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Setelahnya, kami memilih bahan baku yang memenuhi standar dan aturan, baik secara nasional maupun internasional. Tahap berikutnya adalah mengembangkan klaim untuk menginformasikan efikasi produk – didukung hasil uji laboratorium terakreditasi, dan mengacu pada aturan serta norma-norma yang berlaku.”
Sementara dari sisi kesiapan pihak sekolah, Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd., Direktur Sekolah Dasar, Kemendikbudristek RI menegaskan, “Setiap sekolah harus menyiapkan Satgas Covid-19 dan melakukan optimalisasi UKS. Prosedur-prosedur lain pun harus diterapkan, utamanya dalam hal penerapan PHBS. Sesuai SKB Empat Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19, ada serangkaian hal penting yang harus dilakukan oleh semua warga satuan pendidikan selama PTM terbatas. Beberapa di antaranya: selalu memakai masker selama berada di satuan pendidikan, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer, menjaga jarak, serta menerapkan etika batuk dan bersin.”
PTM Terbatas merupakan salah satu manifestasi dari new normal dan membutuhkan pendekatan “seluruh masyarakat” untuk menjawab tantangan tersebut. Kannan Nadar, Chief of Water, Sanitation and Hygiene (WASH) Unicef Indonesia mengatakan, “Ada banyak dampak negatif pada anak-anak dari penutupan sekolah yang berkepanjangan dan konsekuensinya semakin parah, terutama bagi anak-anak yang paling rentan yaitu di pedesaan, daerah terpencil, dan mereka yang memiliki disabilitas. Kondisi ini termasuk meningkatnya angka putus sekolah, penurunan prestasi belajar anak-anak dengan banyaknya peserta didik yang diperkirakan akan mengalami kehilangan belajar, serta dampak pada kesejahteraan psikososial dan kesehatan mental mereka yang disebabkan oleh isolasi sosial yang berkepanjangan – dikombinasikan dengan ketidakpastian ekonomi. Di masa PTM terbatas ini, ketersediaan fasilitas air bersih, sanitasi dan kebersihan (WASH) sangat penting untuk kelancaran sekolah. Cuci tangan pakai sabun perlu diprioritaskan di semua sekolah, permukaan yang bersentuhan harus secara rutin didesinfeksi, dan dana Bantuan Operasional Sekolah perlu secara kreatif digunakan untuk meningkatkan akses WASH dengan tetap menjaga fasilitas yang ada.”
Keamanan siswa menjadi poin utama dari PTM terbatas – khususnya di tingkat sekolah dasar, mengingat baru anak usia di atas 12 tahun yang bisa mendapatkan vaksinasi. Selain itu ancaman terkait Long COVID-19 pada anak-anak juga perlu menjadi perhatian khusus. Penelitian dari Stephenson, et al. (2021) menunjukkan bahwa 1 dari 7 anak yang terkena COVID-19 masih memiliki gejala sampai dengan 15 minggu kemudian[1]. Mengenai hal ini, Dr. Bayu Satria Wiratama, Pakar Epidemiologi dari Universitas Gajah Mada menerangkan bahwa peranan Satgas COVID-19 sekolah harus melibatkan guru, orang tua/ wali murid, serta warga sekolah lainnya, termasuk masyarakat sekitar. Seluruh pihak harus bahu-membahu dalam: membuat protokol tata laksana jika muncul kasus, membangun jejaring komunikasi dengan Puskesmas/Dinas Kesehatan setempat, menyiapkan ruangan UKS khusus infeksi, melatih dan membentuk tim skrining, hingga memantau kondisi harian setiap warga sekolah.
“Selama pandemi, Unilever Indonesia juga telah memberikan bantuan berupa produk kebersihan dan higienitas serta sarana cuci tangan yang disalurkan ke sekolah dasar di berbagai kota/kabupaten, dilengkapi berbagai program edukasi untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya PHBS. Semoga pelaksanaan IHF hari ini semakin menggenapkan upaya kami untuk mempererat kerja sama dari semua pihak dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan higienis,” tutup Reski.








