Jakarta, 30 September 2026 – Indonesia resmi memasuki fase ageing population. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 Badan Pusat Statistik menunjukkan penduduk berusia 60 tahun ke atas telah mencapai 11,97 persen dari total populasi Indonesia.
Perubahan demografi ini menempatkan kesehatan mata sebagai bagian penting dalam menjaga masyarakat tetap aktif dan mandiri. Kementerian Kesehatan RI mencatat sekitar 600 ribu hingga 650 ribu kasus kebutaan akibat katarak sepanjang 2025. Katarak juga menjadi penyebab utama kebutaan pada penduduk berusia di atas 50 tahun, dengan proporsi 81,2 persen. Dari 23,35 juta peserta skrining Cek Kesehatan Gratis 2025–2026, sebanyak 2,95 juta orang teridentifikasi mengalami gangguan mata2.
Secara global, World Health Organization (WHO) memperkirakan 94 juta orang mengalami gangguan penglihatan sedang hingga berat atau kebutaan akibat katarak. Studi terbaru yang disoroti WHO pada 2026 juga menunjukkan hampir separuh orang dengan kebutaan terkait katarak di dunia belum memperoleh akses terhadap operasi3.
Di saat yang sama, kebutuhan penglihatan masyarakat ikut berubah. Banyak orang tetap aktif bekerja, membaca, menggunakan perangkat digital, berkendara, bepergian, dan menjalankan beragam aktivitas hingga usia lanjut. Karena itu, pembicaraan mengenai operasi katarak kini tidak lagi hanya berhenti pada bagaimana menghilangkan kekeruhan lensa, tetapi juga bagaimana kualitas penglihatan setelah tindakan atau quality of vision dapat mendukung aktivitas pasien.
Dr. Milzan Murtadha, SpM, dokter spesialis mata JEC Eye Hospitals and Clinics mengatakan bahwa perkembangan teknologi memberi dokter semakin banyak pilihan untuk menyesuaikan penanganan dengan kebutuhan masing-masing pasien. “Tujuan operasi katarak bukan hanya membuat pasien kembali melihat lebih jelas, tetapi bagaimana kualitas penglihatan tersebut dapat mendukung aktivitas sehari-hari. Karena kondisi mata, kebutuhan visual, dan aktivitas setiap orang berbeda, pemeriksaan dan konsultasi menjadi penting untuk menentukan pendekatan operasi serta pilihan lensa yang paling sesuai,” ujarnya.
Memahami Katarak dan Waktu Penanganannya
Katarak terjadi ketika lensa alami di dalam mata yang semula jernih menjadi keruh. Kondisi tersebut dapat membuat cahaya yang masuk ke mata berkurang atau menyebar sehingga penglihatan menjadi buram seperti berkabut, lebih mudah silau, atau warna terlihat lebih kekuningan.
Proses degeneratif seiring bertambahnya usia memang menjadi penyebab paling umum. Namun, usia bukan satu-satunya faktor. “Katarak memang paling sering ditemukan seiring bertambahnya usia, tetapi faktor yang memengaruhinya cukup beragam. Kondisi seperti diabetes, riwayat trauma atau operasi pada mata, penggunaan obat tertentu, hingga faktor genetik juga perlu diperhatikan. Karena itu, pemeriksaan mata penting untuk memahami kondisi setiap pasien secara menyeluruh, bukan hanya melihat faktor usia,” jelas Dr. Milzan.
Seiring perkembangannya, katarak dapat mengganggu aktivitas seperti membaca, melihat dalam cahaya redup, berkendara, dan mengenali lingkungan sekitar. Jika terus berlanjut, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan berat hingga kebutaan.
“Yang perlu diperhatikan bukan hanya ada atau tidaknya katarak, tetapi sejauh mana kondisi tersebut sudah memengaruhi fungsi penglihatan dan aktivitas pasien. Perjalanan katarak dan kebutuhan setiap orang berbeda, sehingga waktu serta pilihan penanganannya juga perlu ditentukan berdasarkan pemeriksaan dan diskusi bersama dokter,” tambah Dr. Milzan.
Teknologi dan Pilihan Lensa Semakin Personal
Operasi katarak dilakukan dengan mengangkat lensa alami yang keruh dan menggantinya dengan lensa intraokular atau intraocular lens (IOL). Perkembangan teknologi membuat proses operasi dan pilihan lensa semakin presisi serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien.
Salah satu teknologi yang tersedia di JEC adalah Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS), yang memanfaatkan laser femtosecond untuk membantu tahapan penting dalam operasi katarak. Teknologi ini membantu dokter membuat insisi dan bukaan kapsul lensa secara lebih presisi dan konsisten, sekaligus memecah lensa yang keruh sebelum diangkat sehingga penggunaan energi ultrasonik dapat dikurangi.
Pilihan lensa tanam di JEC Eye Hospitals and Clinics meliputi:
- Lensa Tanam Multifokal
Mendukung penglihatan jarak jauh, menengah, dan dekat, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada kacamata untuk berbagai aktivitas. - Lensa Tanam EDOF atau Extended Depth of Focus
Memberikan rentang penglihatan jauh, menengah, dan dekat, dengan manfaat yang lebih dominan pada jarak menengah, seperti saat menggunakan komputer atau melihat dashboard kendaraan. - Lensa Tanam Monofokal
Memiliki satu titik fokus, umumnya untuk jarak jauh. Pasien biasanya masih memerlukan kacamata untuk aktivitas pada jarak lain, sesuai target koreksinya. - Lensa Tanam Toric untuk Koreksi Astigmatisme
Ditujukan untuk membantu mengoreksi astigmatisme atau mata silinder dan dapat dikombinasikan dengan lensa monofokal, EDOF, maupun multifokal.
“Tidak ada satu jenis lensa yang otomatis paling baik untuk semua pasien. Dokter perlu mempertimbangkan kondisi kornea, retina dan saraf mata, anatomi mata, hasil kalkulasi lensa, pola aktivitas, serta ekspektasi penggunaan kacamata setelah operasi. Dari situ, pasien dapat memahami pilihan yang paling sesuai dengan kondisinya,” ujar Dr. Milzan.
Perkembangan teknologi telah memperluas ukuran keberhasilan operasi katarak, dari sekadar mengangkat lensa yang keruh menjadi upaya menghadirkan kualitas penglihatan yang mendukung mobilitas dan kemandirian pasien.
Pendekatan tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan JEC sejak 1984. Selama lebih dari empat dekade, JEC mengembangkan layanan kesehatan mata berbasis teknologi diagnostik dan bedah, serta kini memiliki 16 fasilitas di sembilan kota. Posisi JEC sebagai trusted eye care leader juga diperkuat melalui pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia dengan kode JECX.
Perluasan layanan berlanjut melalui pengembangan JEC BALI @ Sanur di Kawasan Ekonomi Khusus Sanur serta persiapan fasilitas baru di Tangerang, Banten, dan Kediri, Jawa Timur. Langkah ini melengkapi inovasi klinis seperti FLACS dan ragam pilihan IOL.
“Teknologi memberi semakin banyak pilihan, tetapi pusat dari seluruh proses tetap pasien. Yang terpenting adalah bagaimana pasien dapat kembali menggunakan penglihatannya untuk menjalani aktivitas dengan baik sesuai kondisi dan kebutuhannya,” tutup Dr. Milzan.








