
Hipertensi dapat memperburuk perjalanan Covid-19 sehingga diperlukan suatu kewaspadaan khusus tentang hal ini. Sehubungan dengan itu, dalam masa pandemi seperti sekarang ini, masyarakat dianjurkan dan dihimbau untuk memantau tekanan darahnya sendiri secara teratur di rumah.
Pasien hipertensi dihimbau untuk tetap patuh pada pengobatan pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Masyarakat luas juga diingatkan untuk menggunakan fasilitas telemedicine yang telah tersedia dengan berbagai pendekatan mengingat Hipertensi merupakan penyakit penyerta atau komorbid tertinggi dan berbahaya bagi pasien terinfeksi virus Covid-19 di dunia, termasuk di Indonesia.
Erwinanto, Sp.JP(K),FIHA, Ketua InaSH mengemukakan, “Jumlah penyandang hipertensi di Indonesia relatif tinggi dan kecenderungannya tidak menunjukkan penurunan dalam satu dekade terakhir. Prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan survey tahun 2018 yaitu sekitar 34% tidak berubah dari angka yang didapat pada survey tahun 2007. Penyebab tingginya kasus baru hipertensi akibat tingginya faktor risiko hipertensi seperti diabetes mellitus (kencing manis), kegemukan, konsumsi garam yang tinggi dan merokok.”
Ia mengemukakan, “Penyandang hipertensi yang minum obat dan terkontrol tekanan darahnya di Indonesia masih rendah. Survey May Measurement Month mencatat hanya sekitar 37% penyandang hipertensi yang minum obat mempunyai tekanan darah yang terkontrol (kurang dari 140/90 mm Hg).”
“Penderita diabetes dan hipertensi perlu secara berkala melakukan deteksi fungsi ginjal untuk mengendalikan kerusakan ginjal. Penurunan fungsi ginjal akibat PGK dapat diperlambat dengan terapi medis, perubahan gaya hidup dan melakukan konsultasi dengan dokter. Untuk memastikan kondisi ginjal seseorang terdapat beberapa tes yang bisa dilakukan yaitu: tes darah (menilai kinerja ginjal dengan melihat kadar limbah dalam), tes darah (ureum, kreatinin), tes urine (mengetahui kadar protein, rasio albumin dan kreatinin dalam urine), Imaging untuk melihat struktur dan ukuran ginjal (USG, MRI, CT Scan), Biopsi ginjal (dilakukan dengan mengambil sampel kecil dari jaringan ginjal, kemudian dianalisis untuk menentukan penyebab kerusakan ginjal,” ia menjelaskan.
“PGK dapat diatasi/diobati dan PGK bukan akhir segalanya. Kualitas hidup pasien PGK dapat menyamai kualitas hidup orang sehat. PGK dapat dicegah dengan 7 golden rules; pola hidup sehat (makan sehat, olahraga, tidak merokok dan mengkonsumsi alkohol), tidak mengkonsumsi obat-obatan tanpa anjuran dokter, Medical Check Up (mengetahui fungsi ginjal), orang dengan tekanan darah tinggi, atau kadar gula tinggi perlu evaluasi lebih lanjut karena kontrol hipertensi dan diabetes adalah faktor kunci pencegahan PGK.” tambahnya
Sementara itu, tentang Hipertensi pada perempuan, dr. Siska Suridanda Dany, Sp.JP, FIHA, Anggota Pokja Panduan Konsensus InaSH dalam presentasinya memaparkan, “Hipertensi pada perempuan memiliki keunikan dalam hubungannya dengan berbagai perubahan hormonal yang menyertai perempuan sepanjang siklus hidupnya. Siklus hidup perempuan dimulai dengan masa kanak-kanak kemudian diikuti fase remaja dewasa muda, menopause serta usia tua. Dalam setiap fase, terdapat perubahan spesifik gender yang dapat menempatkan perempuan pada risiko hipertensi serta komplikasi yang menyertainya.”








